Menghamba Pada Tuhan

by PSQH
Categories: Kajian Tafsir
Tags: No Tags
Comments: No Comments
Published on: September 19, 2019

20190919_103813

Menghamba pada Tuhan
Oleh: M. Atho’illah Naufal

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“iyo bener pancen, sopo wong kang masrahaken jiwa ragane marang Pengeran, dheweke bakal podho oleh ganjaran ono ing ngersane Pengeran, lan ora bakal wedi, lan ora bakal susah.” (Tafsir Al-Ibriz, QS Al-Baqarah 112)

Islam memiliki dua pengertian, yaitu secara umum dan khusus. Pengertian khusus adalah agama yang telah dibawa Nabi Muhammad SAW secara mutlak. Maknanya yaitu tunduk patuh kepada Allah dan taat kepada Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk seluruh umat manusia hingga hari kiamat. Adapun makna secara umumnya adalah agama para Nabi yang mengajarkan tauhid, tunduk patuh hanya kepada Allah SWT. KH. Bishri Musthofa menafsirkan bahwa siapapun yang memasrahkan jiwa raganya kepada Tuhan, maka kesusahan dan ketakutan tidak akan menimpa dirinya. Lantas apakah setiap agama yang mengajarkan kepasrahan merupakan hakikat dari agama Islam?
Islam adalah agama yang fitroh. secara alamiah, manusia berbuat sesuatu sesuai dengan fitrohnya, seperti menyayangi, berbuat baik, dan beberapa sifat lain yang muncul dalam benak pribadi. Namun tidak semua manusia mampu menjalankan hidup mereka sesuai dengan fitrohnya. Ketika Allah memberikan sesuatu tentang aturan hidup, bersamaan juga diberikan oleh-Nya gambaran tentang siapa saja yang menaati dan mengabaikan-Nya. Allah juga memberikan gambaran mengenai balasan bagi yang melalaikan dan menaati-Nya. Banyak sekali kisah dari umat terdahulu yang bisa menjadi contoh tentang kabar gembira ataupun duka dari balasan Allah terhadap umat-Nya.
Nabi Ibrahim telah berwasiat kepada seluruh anaknya, agar mereka tetap menjadi muslim hingga akhir hayatnya. Muslim yang dimaksud adalah mereka menjadi orang-orang yang terus berbuat baik selama hidupnya dan berpegang teguh kepada ajaran Nabi Ibrahim. Namun mereka tidak mampu menjaga wasiat Nabi Ibrahim. Seperti dalam Firman Allah
وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

yang artinya, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS.Al-Baqarah: 120).
Nafsu menjadikan mereka tidak bisa menjaga wasiat dari pendahulunya. KH Bishri Musthofa memberikan penjelasan agar umat Islam tetap berhati-hati terhadap orang yang membenci Islam. Kita harus tetap waspada dan jangan sampai tergiur dengan keinginan mereka yang berusaha menghancurkan Islam.
Surat al-Baqarah: 208 mengatakan: “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. sungguh, ia musuh yang nyata bagimu”. Ayat ini turun ketika Abdullah bin Salam, Tsa’labah, Ibnu Yamin, dan kawan-kawannya memohon kepada Nabi SAW. untuk mengamalkan isi dari kitab Taurat. Padahal, mereka telah beriman kepada Allah dan para utusan-Nya. Secara tidak langsung, ayat itu telah mengisyaratkan agar kita sepenuhnya mengikuti ajaran yang telah dibawa Nabi SAW. dan meninggalkan ajaran yang terdahulu.
Kitab suci Al-Quran merupakan pedoman kehidupan manusia. Al-Quran mampu membawa manusia menuju arah kebenaran yang hakiki. Selain itu, melalui semua firman-Nya, kisah umat terdahulu, maupun janji-Nya manusia mampu lebih mudah mendekatkan dirinya dengan Maha Pencipta. Islam berisi ajaran kehidupan yang mengarahkan penganutnya untuk menyerahkan diri pada kemauan Allah. Banyak sekali ilmu yang bisa kita ambil dari Al-Quran, yang memang tidak ada tandingannya. Ketika seseorang telah menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup utama, maka tentu hidupnya akan penuh nikmat kemuliaan dari Allah SWT.
Kasih sayang Allah sangatlah luas, ajaran Islam berlaku untuk seluruh manusia. Tidak ada perbedaan yang ada di mata Allah kecuali ketaqwaan. Kulit hitam dan putih, muda dan tua, laki-laki maupun perempuan, raja dan pengemis, kuat dan lemah, umat jaman dahulu maupun sekarang, bukanlah masalah dalam menjalankan ajaran dari Islam karena mereka semua sama-sama makhluk-Nya. semuanya memiliiki sifat kemanusiaan dan apa yang di isyaratkan pada umumnya. Seandainya seluruh hidup kita digunakan untuk bersujud hanya untuk bersyukur, mungkin tetap saja tidak akan cukup untuk menebus karunia-Nya kepada kita.
Sangat disayangkan, justru akhir-akhir ini banyak sekali kaum muslimin yang Islamnya hanya cukup nama dan status dalam kartu identitas. Di sisi lain, banyak juga orang yang mengklaim bahwa Islam golongan mereka adalah yang paling benar. Umat Islam yang saat ini hanya sebatas Islam yang bersifat teoritis, polos, dan dingin. Sehingga sering dijumpai pemeluk Islam yang tidak memasukkan ajaran-ajaran Islam dalam sendi kehidupan. seperti program hidup, tujuan, dan berusaha mengindahkan nama Islam melalui perbuatan nyata. Maka dari itu tugas kita sebagai umat muslim adalah menebar kebaikan kepada setiap makhluk di dunia dan memberikan citra positif tentang persepsi seseorang terhadap agama Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Welcome , today is Saturday, October 19, 2019