HIJRAH DUA ZAMAN

by PSQH
Categories: Kajian Tafsir
Tags: No Tags
Comments: No Comments
Published on: October 3, 2019

20191003_112351

وَمَنْ يُهاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُراغَماً كَثِيراً وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهاجِراً إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكانَ اللَّهُ غَفُوراً رَحِيماً (النسأ: ١٠٠)
Sopo wonge hijrah perlu ngagungake agamane Allah Ta’ala, wong iku bakal nemu panggonan ngalih kang akeh lan rizki jembar. Lan sing sopo wonge hijrah menuju marang ridhone Allah lan Rosul dumadakan wafat ono ing tengah dalan (sak jerone lelakon) moko ganjarane tetep di tanggung dening Allh Ta’ala, “wakanallahu ghofuror rohima”
(Q.S. An-Nisa:100)
Ridho Allah Swt. yang mampu membuat umat Nabi Muhammad di awal datangnya Islam sangat kuat. Tekanan dan ancaman kaum kafir menjadi santapan umat muslim yang baru mengenal Islam. Begitu miris dan memperihatinkan keadaan umat muslim pada waktu itu. Sehingga, turun perintah Allah agar Nabi Muhammad SAW dan umatnya hijrah. Nabi Muhammad SAW, menyeru pada umatnya sekalian untuk meninggalkan tanah Makkah. Lantas, bagaimanakah cara merealisasikan hijrah di zaman Nabi Muhammad SAW dengan konteks hijrah di zaman modern ini?.
Hijrah berasal dari kata , هجر-يهجر dalam kamus bahasa Arab diartikan pindah, meninggalkan negri asal, meninggalkan, melepaskan diri. Sedangkan Hamka berpendapat dalam kitab tafsirnya “Al Azhar”, hijrah bermakna: (1) perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, (2) hijrah yaitu berpindah dari kehidupan yang penuh kesyirikan menuju tauhid, (3) Pindahnya seseorang dari suatu perbuatan atau tempat dengan tujuan menyusun masyarakat Islam, dan (4) Pindah dari perbuatan yang kasar menuju budi pekerti dan akhlak yang baik.
Quraish Shihab dalam kitab tafsirnya yang berjudul al Misbah, surah an-Nisa ayat 100 mengandung arti: (1) hijrah sarana untuk meraih kebebasan, kekuatan, mendirikan pemerintah dan berkembang, (2) dengan niat hijrah, langkah pertama dan keluar dari tanah air, manusia dapat meraih posisi yang lebih, (3) manusia yang mengikuti jalan Allah dan Rasulullah, tidak boleh mengkhawatirkan kematian dan kehidupan, (4) semua hijrah adalah suci, seperti hijrah untuk berjihad mencari ilmu, tabligh dan lain-lain, dan (5) pahala seorang muhajir Bersama Allah yakni, nilai perbuatannya lebih tinggi dari syurga.
Seruan Nabi Muhammad SAW untuk hijrah terdengar hingga telinga kaum kafir Makkah. Tidak banyak yang menghiraukan seruan Nabi Muhammad, baik karena takut dengan kaum kafir ataukah tidak mau meninggalkan kota kelahiran mereka. Ancaman yang ditujukan pada umat muslim agar tidak ikut serta Nabi hijrah, semakin gencar dilancarkan kaum kafir Makkah. Siasat demi siasat pembunuhan Nabi telah dijajalnya. Namun atas kehendak dan izin Allah, Nabi Muhammad beserta rombongan umat muslim berhasil meninggalkan kota Makkah.
Kitab Al Ibriiz karya KH. Bishri Mustofa menuturkan bahwa orang-orang yang tidak tergerak hati dan jismnya untuk hijrah disebut dalam tafsir al-Ibriz surah an-Nisa’ ayat 97 sebagai “dheweke podho nganingoyo awake dewe”. Ayat tersebut menceritakan bahwa orang-orang yang mati di Mekah karena sebenarnya mereka telah menganiaya dirinya sendiri, mengepa demikian? Kerena sebenarnya mereka mampu untuk hijrah, namun enggan untuk ikut hijrah bersama Nabi SAW atau orang yang tidak mau hijrah karena takut akan ancaman dan siksaan orang-orang kafir.
Kelak saat hari kiamat, akan diseru oleh malaikat bagaimana keadaan orang yang berada di Mekah. Mereka akan menjawab bahwa keadaan mereka sangat ringkih (tidak berdaya), memperihatinkan. Namun, ditegaskan lagi oleh malaikat bahwa, apakah mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya bumi Allah sangatlah luas. Kesalahan mereka sendiri yang tidak mau beranjak untuk menapaki luasnya bumi Allah. Mungkin dibelahan bumi yang lain pasti tersimpan keagungan dan kuasa Allah yang telah disiapkan bagi hamba-Nya yang ingin berhijrah.
Sedangkan bila mereka mentaati perintah Allah Swt. dan mengikuti Nabi Muhammad SAW mereka akan mendapat ridho Allah. Sebagaimana janji Allah dalam Qs. An-Nisa: 100,
“Sopo wonge hijrah perlu ngagungake agamane Allah Ta’ala, wong iku bakal nemu panggonan ngalih kang akeh lan rizki jembar. Lan sing sopo wonge hijrah menuju marang ridhone Allah lan Rosul dumadakan wafat ono ing tengah dalan (sak jerone lelakon) moko ganjarane tetep ditanggung dening Allah Ta’ala,”wakanallahu gofuror rohima.”
Kecuali orang yang benar-benar tidak bisa berhijrah seperti laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tidak kuat untuk melaksanakan hijrah dan tidak tau jalan atau arah untuk hijrah. Seperti perempuan-perempuan tawanan perang, budak, dan anak-anak yang belum mengerti tentang hijrah.
Lalu, bagaimana makna hijrah dimasa nabi dan refleksinya dimasa sekarang ?
Sedikit paparan dari makna hijrah menurut para mufasir diatas, dapat ditarik refleksi bagaimana konsep hijrah para pemuda zaman sekarang. Pada dasarnya keadaan pada zaman Nabi dengan sekarang ini sudah tumbuh dan berkembang. Perkembangan zaman serta intelektual pada tiap generasi, menjadikan berbedanya tiap generasi dalam memahami makna hijrah. Pada zaman Rasulullah, hijrah dimaknai dengan berpindah tempat untuk menyebarkan dan mempertahankan agama Allah. Namun, konsep makna seperti itu sudah tidak dipakai lagi setelah peristiwa Fathul Makkah yang berhasil ditakhlukkan Rasulullah. Sebenarnya, hijrah tidak hanya dengan berpindah tempat, namun hijrah perilaku juga lebih penting.
Para pemuda sekarang sering mengartikan hijrah dengan merubah penampilan, dari yang sebelumnya tidak berhijab menjadi berhijab, bahkan memakai niqob. Disamping itu, terdapat hal yang lebih penting, yakni hijrah tidak hanya luarnya saja, namun perilaku serta hatinya juga. Contoh hijrah perilaku semisal dengan tidak lagi kufur terhadap nikmat Allah. Pertama yang harus diperhatikan dalam hijrah, yaitu meluruskan niat. Apakah sudah benar niatnya?. Untuk apa niat ber-hijrah?.
Ridho dari Sang Maha Kuasa tentu sangat diharapkan dalam setiap langkah yang dipilih. Demikian untuk memperjuangkan dan mempertahankan agama Allah SWT. Jika hijrah dengan perilaku saja tidak memungkinkan, sehingga mengharuskan untuk berpindah tempat demi menjaga agama Allah, maka lakukanlah dengan niat yang lurus. Sehingga mampu menjadi seorang yang lebih baik kedepannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Welcome , today is Friday, December 6, 2019