Konsep Iman yang Terkandung dalam Al- Qur’an

by PSQH
Categories: Kajian Tafsir
Tags: No Tags
Comments: No Comments
Published on: December 11, 2020

Miftachul Jannah

 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (2) الَّذِينَ يُقِيمُونَ

(4) الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ (3) أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“ sejatine wong- wong mukmin kang sempurno iku naming wong- wong kang arikolo ancamane Allah ta’ala disebut, artine banjur ndhrodhok wedi lan wong- wong kang arikolo ayat- ayate Allah ta’ala diwoco, banjur soyo tambah imane lan banjur podo tawakal marang Pangerane(2). Ya wong- wong mukmin kang kasebut mau, wong- wong kang podo jenengake sholat lan podo ngengok ake( infak) sebagian saking rezkine Allah kanggo keperluan ngabekti marang Allah ta’ala(3). Ya wong- wong kang mengkono mau, wong- wong kang mukmin sejati dheweke podho oleh pangkat ono ing ngersane Pangeran. Lan oleh panggonan sarto rizki kang mulyo(4).  ”

  1. 1.      Pengertian Iman

            Secara bahasa , iman berarti membenarkan, sementara menurut istilah adalah “mengucapkan dengan lisan, membenarkan dalam hati dan mengamalkan dalam perbuatannya”. Adapun iman menurut pengertian istilah yang sesungguhnya ialah kepercayaan yang meresap kedalam hati, dengan penuh keyakinan, tidak bercampur syak dan ragu, serta pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari- hari.

            Menurut Al- Qur’an, iman bukan semata-mata suatu keyakinan akan benarnya ajaran yang diberikan, melainkan iman itu sebenarnya menerima suatu ajaran sebagai landasan untuk melakukan perbuatan. Al- Qur’an dengan tegas memegang taguh pengertian seperti ini, karena menurut Al- Qur’an walaupun setan dan malaikat itu sama- sama adanya, namun beriman kepada malaikat juga disebut sebagai bagian dari rukun iman, sedang terhadap setan orang diharuskan mengafirinya.

  1. 2.      Konsep Iman Menurut Al- Qur’an

            Kata Iman di dalam Al- Qur’an digunakan untuk arti yang bermacam- macam. Ar- Raghib al- Ashfahani, Ahli Kamus Al- Qur’an mengatakan bahwa kata iman didalam Al- Qur’an terkadang digunakan untuk arti iman yang hanya sebatas di bibir saja padahal hati dan perbuatanya tidak beriman, terkadang Iman digunakan untuk arti yang hanya terbatas pada perbuatan saja, sedangkan hati dan ucapannya tidak beriman dan ketiga kata iman terkadang digunakan untuk arti iman yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dalam perbuatan sehari- hari.

            Iman dalam arti semata- mata ucapan dengan lidah tanpa dibarengi dengan hati dan perbuatan. Hal ini dapat dilihat dari arti QS. Al- Baqarah, 2 : 8-9,yaitu:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ يُخَـٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ

Dan diantara manusia itu ada orang yang mengatakan : “Kami beriman kepada Allah dan hari Akhirat, sedang yang sebenarnya mereka bukan orang- orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan menipu orang-orang yang beriman, tetapi yang sebenarnya mereka menipu diri sendiri dan mereka tidak sadar”.

Iman dalam arti hanya perbuatannya saja yang beriman, tetapi ucapan dan hatinya tidak beriman., dapat dilihat dari QS. An- Nisa, 4: 142:

إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ يُخَـٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَـٰدِعُهُمۡ وَإِذَا قَامُوٓاْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُواْ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلاً۬

“Sesungguhnya orang-orang munafik (beriman palsu) itu hendak menipu mereka. Apabila mereka berdiri mengerjakan sembahyang, mereka berdiri dengam malas, mereka ria (mengambil muka) kepada manusia dan tiada mengingat Allah melainkan sedikit sekali”.

Iman dalam arti yang ketiga adalah tashdiqun bi al-qalb wa amalun bi al-jawatih, artinya keadaan dimana pengakuan dengan lisan itu diiringi dengan pembenaran hati, dan mengerjakan apa yang diimankannya dengan perbuatan anggota badan. Contoh iman model ini dapat dilihat dalam QS. Al- Hadid, 57:19,  yang Artinya :

“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu adalah orang- orang yang Shiddiqien”.

  1. 3.      Tanda-tanda Orang yang Beriman

            Dalam QS. Al-Anfal ayat 2-4 tanda-tanda orang beriman adalah sebagai berikut :

  1.  Bergetar Hatinya bila disebutkan nama Allah.

Artinya: “Sesungguhnya orang –orang yang beriman adalah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka”(QS. Al-anfal : 2).

Karena hati yang bergetar ketika mendengar nama, janji, dan ancaman Allah juga melahirkan rasa takut untuk berbuat maksiat, dan membangun semangat untuk melakukan ketaatan kepada Allah.

  1. Bertambah Imannya ketika Ayat Al-Qur’an di bacakan.

Artinya: “dan apabila dibacakan ayat-ayatnya, bertambahlah iman mereka ( karenanya )” (QS. Al-anfal : 2).

Hal ini menjadi bukti keimanan seseorang ketika Al- Qur’an di baca. baik oleh dirinya ataupun oleh orang lain, ia dapat mengambil manfaat dengan bertambahnya rasa iman.

  1. Tawakal hanya kepada Allah.

Artinya: “dan hanya kepada Rabbnya mereka bertawakal”( QS. Al-anfal:2 ).

Orang yang beriman akan menyandarkan segala urusannya hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain. Akan tetapi mereka juga melakukan sebab agar terwujudnya suatu hal, disamping bertawakal kepada Allah. Karena mereka yakin bahwa tidak akan terwujud suatu hal kecuali atas kehendak Allah.

  1. Mendirikan Sholat.

 Artinya: “ ( Yaitu ) orang  orang yang mendirikan sholat” (QS. Al-anfal:3 ).

Sholat adalah Tiang Agama,Orang yang beriman akan mendirikan sholat secara sempurna, baik sholat yang hukumnya wajib maupun yang sunnah.

  1. Senang Berinfak atau bersodaqoh.

Artinya: “ dan orang yang menginfakkan rizki yang kami berikan kepada mereka” ( QS. Al-anfal : 3 ).

Rizki yang dimaksud di sini tidak hanya berupa harta. Tapi termasuk di dalamnya harta, ilmu, kedudukan, dan kesehatan. Orang beriman menginfakkan kesemua itu sebagai bukti iman dan taatnya kepada Allah Ta’ala. Infaq di sini bisa mencakup yang wajib maupun yang sunnah. Karena Ibadah kepada Allah dengan harta (‘ibadah maliyah) memiliki ragam bentuk, seperti zakat, infaq, sedekah, waqaf, hibah, hadiah, dan memberipinjaman.

      Menurut Syahrur Iman dapat diartikan sebagai kepercayaan kepada Nabi Muhammad SAW. dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, yang akan menuntun pengikutnya kepada pelaksanaan syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad, seperti: shalat, puasa, zakat, haji, syura dan jihad. Sedangkan Menurut  Imam al-Ghazali Iman adalah membenarkan dan mempercayai apa saja yang telah Rasulullah SAW. beritahukan kepada manusia. Sedangkan secara terminologi adalah mem percayai dengan hati, mengikrarkannya dengan lisan dan meng implementasikannya dengan perbuatan.

      Menurut pemahaman mayoritas Umat Islam, Iman dalam arti khusus adalah rukun Iman. Jumlah rukun Iman sebagaimana yang terhadapat dalam al-Hadits ada enam. Sedangkan Rukun Iman dalam pengertian yang luas adalah adanya enam puluh sembilan sila, tingkatan atau cabang. Sila atau cabang-cabang tersebut memberi kesimpulan bahwa semua itu berarti agama Islam. Dengan kata lain, Islam dan Iman secara luas dipahami sebagai Agama Islam, dan sama sekali tidak mengidentifikasi agama lain. Maka ikrar keberislaman tidak mungkin bila tidak disertai dengan mengikuti seluruh syari’at Nabi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Welcome , today is Saturday, December 4, 2021