Konsep Ulul Albab dalam al-Quran (Kajian Tematik QS Al-Imran ayat 190-191 Tafsir al-Misbah karya Quraisy Shihab)

by PSQH
Categories: HOME
Tags: No Tags
Comments: No Comments
Published on: December 11, 2020

oleh Irfatun Nadzifah

Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna diantara makluk Allah yang lainnya, kesempuranaan manusia telah dojelaskan dalam QS. at-Tiin ayat 4. menurut Quraisy Shihab kesempurnaan manusia sering kali mendapat pujian dari Allah SWT, bahwa terciptanya manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya, kesempurnaan manusia berbeda dengan makhluk Allah yang lain-lainnya. terciptanya manusia dikaruniai dengan akal, dan dengan akal itu pula manusia telah dipilih oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi.

Tidak hanya akal budi yang dkaruniakan Allah kepada Manusia, disamping itu Allah juga memberikan amanah kepada manusia untuk menjadi khalifah di bumi, dimana Allah telah memberikan fasilitas yang ada di langit dan di bumi untuk memenuhi kehidupan manusia sehingga manusia sebagai khalifah di bumi diberikan tanggung jawab bagaimana manusia dapat mengembangkan akalnya untuk memahami ayat-ayat Allah sehingga melahirkan pemikiran baru yang dapat memberikan kemajuan dalam  perdaban manusia dimuka bumi.

Kehidupan manusia di muka bumi tidak lepas dari penggunaan akal. menggunakan akal artinya menusia menggunakan kemampuannya dalam memahami setiap fenomena-fenomena dalam kehidupan, baik  berupa fenomena faktual maupun spiritual. bagaimana manusia menggunakan akalnya untuk memahami ilmu-ilmu Allah yang telah dituangkan dalam al-Quran dan hadits yang kemudian dikontekstualisasikan dengan kehidupan. dan mengambil kebijakan yang tepat dalam memanfatkan setiap anugrah yang diberikan Allah untuk selalu berusaha memberikan kontribusi yang baik atas tugasnya sebagai khalifah dibumi.

إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٠ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (190).  (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (191)”. (QS. Al-Imran ayat 190-195).

Dalam QS. Al-Imran ayat 10-195 memberikan makna yang luas mengenai istilah Ulil Albab. Ulil Albab merupakan istilah khusus yang diberikan oleh Allah kepada manusia yang memiliki kekuatan spiritual, intelektual, dan jiwa sosial yang tinggi. yaitu segolongan manusia yang senantiasa mengingat Allah dalam keadaan apapun sebagaimana telah dijelaskan pada ayat  191. manusia yang senantiasa menggunakan akalnya untuk berfikir tentang kebesaran dan kekuasaan Allah dalam meciptakan langit dan bumi beserta isinya.

Ulul Albab adalah istilah khusus yang dipakai AlQur’an untuk menyebut sekelompok manusia pilihan semacam Intelektual. Istilah Ulul Albab 16 kali disebut dalam Al-Qur’an. Namun, sejauh itu Al-Qur’an sendiri tidak menjelaskan secara defnitive konsepnya tentang ulul albab. Ia hanya menyebutkan tanda-tandanya saja. Karena itulah, para mufassir kemudian memberikan pengertian yang berbeda-beda tentang ulul albab. Imam Nawawi, misalnya, menyebut bahwa ulul albab adalah mereka yang berpengetahuan suci, tidak hanyut dalam derasnya arus. Dan yang terpenting, mereka mengerti, menguasai dan mengamalkan ajaran Islam. Sementara itu, Ibn Mundzir menafsirkan bahwa ulul albab sebagai orang yang bertaqwa kepada Allah, berpengetahuan tinggi dan mampu menyesuaikan diri di segala lapisan masyarakat, elit ataupun marginal.[1]

Menurut al-Quran Ulul Albab adalah sekelompok manusia yang telah diberikan keistimewaan oleh Allah berupa kesempurnaan akal, hati, kebijaksanaan, dan juga hikmah, dan pengetahuan yang diperoleh secara empiris.  Sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 269:

 

يُؤۡتِي ٱلۡحِكۡمَةَ مَن يَشَآءُۚ وَمَن يُؤۡتَ ٱلۡحِكۡمَةَ فَقَدۡ أُوتِيَ خَيۡرٗا كَثِيرٗاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٢٦٩

Artinya: “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)” (QS. Al-Baqarah: 269)

Istilah ulul-albab terdiri dari dua kata, yaitu uluu dan al-albab.Yang pertama merupakan bentuk jamak yang bermakna zawu (mereka yang mempunyai).Sedang kata kedua “al-albāb” adalah bentuk jamak dari lubb yaitu saripati sesuatu.Kacang, misalnya memiliki kulit yang menutupi isinya.Isi kacang dinamai lubb. Ulul-albab adalah orang-orang yang memiliki akal murni, yang tidak diselubungi oleh kulit, yakni kabut ide, yang dapat melahirkan kerancuan dalam  berpikir.[2] Orang yang mau menggunakan akal pikirannya untuk merenungkan atau menganalisa fenomena alam akan dapat sampai kepada bukti yang sangat nyata tentang ke-Esaan dan kekuasaan Tuhan.[3]

Pada ayat 190-191 Allah menguraikan sekelumit dari penciptaan-Nya serta memerintahkan agar memikirkannya. Apalagi seperti dikemukakan pada awal uraian surat ini bahwa tujuan surat Ali Imran adalah membuktikan tentang tauhid, keesaan, dan kekuasaan Allah SWT. Hukum-hukum alam yang melahirkan  kebiasaan-kebiasaan, pada hakikatnya ditetapkan dan diatur oleh Allah Yang Mahahidup lagi Qayyum (Maha Menguasai dan Maha Mengelola segala sesuatu).[4]

Surat Al-Imran ayat 190 Menurut pandangan Quraisy Shihab Ayat ini mengundang manusia untuk berpikir, karena sesungguhnya dalam penciptaan, yakni benda-benda angkasa seperti matahari, bulan, dan jutaan gugusan bintang yang terdapat di langit atau dalam pengaturan sistem kerja langit yang sangat teliti serta kejadian dan perputaran bumi pada porosnya, yang melahirkan silih bergantinya malam dan siang perbedaannya, baik dalam masa maupun dalam panjang dan pendeknya terdapat tanda-tanda kemahakuasaan Allah bagiulūl-albāb, yakni orangorang yang memiliki akal yang murni.[5]

Surat al-Imran ayat 191 menurut pandangan Quraisy Shihab Ayat tersebut menjelaskan sebagian dari ciri-ciri siapa yang dinamai Ulūl-albāb. Mereka adalah orang baik laki-laki atau perempuan yang terusmenerus mengingat Allah, dengan ucapan dan atau hati dalam seluruh situasi dan kondisi apapun.Obyek dzikir adalah Allah, sedangkan obyek akal pikiran adalah seluruh makhluk ciptaan-Nya.Akal diberi kebebasan seluas-luasnya untuk memikirkan fenomena alam, dan terdapat keterbatasan dalam memikirkan dzat Allah.[6]

 

Ulul Albab adalah golongan manusia yang seantiasa berdzikir dan menggunakan akalnya untuk berfikir. golongan manusia yang senantiasa berdzikir dalam situasi apapun. mereka yang tidak pernah memutus dzikir kepada Allah, mereka tidak hanya berdzikir dengan lisan akan tetapi juga dengan hati mereka. Sedangkan berpikir, bisa dengan membaca, merenungi dan memahami segala yang ada di langit dan bumi yang berisi rahasia-rahasia Kebesaran dan kekuasaan Allah.Terdapat berbagai manfaat dan hikmah-hikmah yang menunjukkan kebesaran, kekuasaan, ilmu dan Rahmat Allah yang patut disyukuri dan dijaga.

Kesempurnaan manusia diantara makluk lainnya terletak pada akal yang telah dikarua]niakan Allah kepada manusia.   Dengan bekal akal, manusia bisa membaca, mengetahui, memikirkan, meneliti, menelaah fenomena-fenomena yang ada kemudian menghasilkan suatu pengetahuan atau ilmu. Penemuan dalam berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut mengantarkan orang yang berakal untuk mensyukuri dan meyakini segala ciptaan Allah amat bermanfaat dan tidak ada yang siasia.

 

 


[1] A. Khudori Soleh, Ulul Albab, Konsep Al-Qur’an tentang Intelektualisme, www.scribd.com, diakses tanggal 10-11-2020.

[2] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Jilid 2, (Jakarta: Lentera Hati, 2002) hlm. 370.

[3] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jilid II, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010) hlm. 96.

[4] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Jilid 2,… hlm. 370.

[5] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Jilid 2,… hlm. 370.

[6] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Jilid 2,… hlm. 372-273.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Welcome , today is Saturday, December 4, 2021