Penafsiran QS. Muhammad ayat 25

by PSQH
Categories: Kajian Tafsir
Tags: No Tags
Comments: No Comments
Published on: December 11, 2020

OLEH FUADAH KHUMAIROH ALKHAFIDZOH

 

Ayat yang ke-25 ini termasuk salah satu dari tema “Petunjuk ditambah dengan petunjuk”, yang mana kelanjutan tema dari ayat yang sebelumnya yakni ayat yang ke-16. Yang mana Asbabun Nuzulnya Umar bin al-Khathab adalah orang yang berhati keras, sekeras gunung itu pula di zaman Jahiliyah. Dia pun bermaksud hendak membunuh Nabi Muhammad sebelum dia tahu isi ajaran yang beliau bawa. Sampai dia turut campur tangan mengusiri orang-orang yang hijrah ke negeri Habsyi, sampai orang memberitahu kepadanya bahwa adik kandungnya sendiri yang perempuan, bernama Fatimah telah turut tertarik pula kepada ajaran Muhammad itu. Sampai dia bermaksud hendak membunuh adiknya itu sebelum dia dibunuh orang lain. Tetapi setelah dibacanya ayat yang tercatat dalam catatan adiknya itu, setelah catatan itu diambilnya dengan kekerasan dari tangannya, yaitu pangkal dari Surah Thaha, yang berisi bahwa Al-Quran bukanlah diturunkan Tuhan akan membuat orang jadi sensara, melainkan menjadi petunjuk jalan bagi orang yang ada rasa takut kepada Tuhan, maka berubahlah dengan seketika hati Umar yang laksana gunung itu, dari seorang yang lunak, dari seorang kafir yang pekat menjadi orang Islam yang patuh. Kunci-kunci yang menutup hati selama ini, sehingga ingin membunuhi musuh-musuhnya, dalam sebentar waktu berganti menjadi seorang Pahlawan Islam, mengabulkan permohonan Rasulullah kepada Allah: ”Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar”

“Sesungguhnya orang-orang yang berbalik (kepada kekafiran) setelah petunjuk itu jelas bagi mereka”, kalau pada ayat 24 dijelaskan bahwasanya membaca al-Quran dengan penuh renungan bisa mengubah langkah menusia, dari yang sekejam-kejamnya dapat menjadi manusia yang seteguh-teguhnya iman, maka yang sebaliknya pun dapat terjadi. Yaitu orang yang berkisar pendirian, dari ke muka dia berpesong ke belakang, dari melangkah maju, dia tertegun tegak. Lanjutan ayat menerangkan apa yang jadi sebabnya: ”Maka syaitanlah yang telah menipu mareka dan merayu mereka”.
Pemberdayaan syaitan tidak saja akan datang merayu orang bodoh, bahkan orang yang sangat pandai pun dapat dirayunya dengan kepandaiannya. Seorang Ulama’ besar, Syaikh Ibnul Qayyim al-Jauziyah mengarang sebuah kitab kitab “Naqdul ‘Ilmi wal ‘Ulamaa”, yang isinya ialah menguraikan bagaimana syaitan merayu dan memperdayakan manusia dalam segala bidang. Orang alim, ahli Tasawuf, ahli Fiqh dan berbagai macam keahlian agama, semuanya dicoba oleh syaitan merayu mereka sampai jatuh. Itulah sebabnya maka kita dianjurkan oleh Nabi Muhammad agar membaca doa sehabis seembahyang. (Prof. Dr. Hamka: 6717-6718)
Disini penulis mengambil suatu kesimpulan bahwa syaitan itu akan mengganggu siapa saja, bukan saja orang yang baik orang yang burukpun juga pastinya diganggu olehnya. Makanya tidak heran jika orang yang baik ataupun orang yang alim juga bisa disebut sebagai orang yang munafik, sebab dia ingin dianggap orang yang paling benar, paling dan paling dimata masyarakat. Hal itulah yang dilaukan oleh syetan dengan menggunakan berbagai cara agar manusia bisa jatuh dan menjauh dari Tuhannya dan mengikuti apa yang dia (syetan) inginkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Welcome , today is Sunday, October 24, 2021