HUMOR DALAM ALQURAN

by PSQH
Categories: HOME
Tags: No Tags
Comments: No Comments
Published on: March 30, 2021

Oleh Nur aeni

(Kajian Tafsir Al-Ibriiz karya KH. Bisri Musthofa)

Kehidupan seorang muslim tidaklah semua waktunya dipakai untuk sujud dan ruku, atau tidak semuanya dipakai untuk bermain. Manusia sendiri terdiri atas tiga unsur yakni, akal, jasad, dan ruh yang masing-masing mempunyai kebutuhan. Kebutuhan akal adalah tadabur, membaca, dan menganalisa. Kebutuhan jasad adalah makan, minum, dan istirahat. Sedangkan kebutuhan ruh adalah amal shaleh.

Apakah anda termasuk orang yang suka bercanda? Ataukah anda adalah orang yang sangat serius dan tidak suka bercanda?. Maka Islam adalah agama pertengahan diantara sikap kelebihan, oleh sebab itu agama Islam adalah agama yang menyentuh fitrah kemanusiaan. Sesungguhnya Allah memberikan sifat tawa dan tangis dalam jiwa manusia, sebagaimana firmannya dalam QS. An-Najm [27]: 43.

وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ

“Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis”

Allah SWT menciptakan manusia dengan berbagai watak dan perilaku. Kita tidak bisa menyalahkan orang yang memiliki watak demikian. Karena tertawa dan menangis adalah fitrah manusia. Sebagai pedoman dan panduan hidup manusia, Alquran telah menjelaskan petunjuk yang utuh dan lurus dalam menyingkap rahasia-rahasia alam semesta, baik secara ekplisit maupun implisit.

Bagi pembacanya, kalamullah tersebut memiliki efek psikologis, yakni dorongan untuk terus melakukan pendekatan jiwa, penyatuan dan penyerahan diri, efek sosiologis, yakni hasrat dan motivasi untuk berinteraksi dan berbagi pada sesama, serta efek spiritual, yakni dorongan untuk meningkatkan amal ibadah dan meraih pahala kenikmatan yang melimpah. Dengan demikian, Alquran mengisyaratkan agar manusia berpikir cerdas dan kritis, bertindak kreatif untuk menemukan keagungan Tuhan melalui ayat-ayat-Nya.

Terkait dengan hal tersebut, Alquran menyebutkan tentang tawa dan senyum dalam QS. At-Taubah [9]: 82

فَلْيَضْحَكُوا۟ قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا۟ كَثِيرًا جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

“Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.”

Dalam ayat lain pun terdapat kisah-kisah mengenai menangis dan tertawa. Misalnya dalam QS. An-Naml [27]: 19, QS. Abasa [80]: 39, dan QS. Hud [11]: 71

Tafsir Al-Ibriiz Lima’rifatil Qur’anil Aziz karya KH. Bisri Musthofa menyebutkan bahwa menangis dan tertawa adalah kuasa Allah “Lan sejatine perkoro, iyo Allah Ta’ala iku Dzat kang kuwoso ngguyokake lan nangisake (gawe bungah lan gawe susah). Sedangkan dalam QS. At-Taubah tafsir Al-Ibriiz menceritakan bahwa menangis dan tertawa tersebut adalah kisah orang-orang munafik dalam perang tabuk “Wong-wong munafik iku senajan podho seneng-seneng, podo ngguyu cekakakan selawase urip ono ing dunyo, isih luwih akeh nangise mbesuk ono ing alam akhirat. Ngono iku, amal perbuatane dhewe”.

Lima ayat Alquran di atas menjelaskan bahwa rasa senyum dan tawa adalah rasa yang dianugrahkan Allah SWT kepada manusia. Senyum sebagai ungkapan kegembiraan atau kebahagiaan yang dirasakan oleh manusia. Namun demikian Alquran tidak memperbolehkan tertawa secara berlebihan.

Di masa pandemic ini tentu tidak sedikit orang yang merasa bosan di rumah saja dan bahkan terserang stress ringan. Sehingga tentu pelarian dari kebosanan adalah mencari hiburan yang bisa didapatkan dari rumah, misalnya menonton video humor atau malah kita lah yang membuat lelucon untuk menghibur orang lain. Hal tersebut tentu tidak dilarang, dengan syarat tidak melanggar syari’at.

Alquran sendiri memberi peringatan atas segala tindakan yang dilakukan manusia termasuk dalam hal bercanda, sebagaimana dalam QS. Al-Hujurat [49]: 11.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Dan dalam ayat lain QS. Al-Mutaffifin [83]: 29-34 Allah SWT berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجْرَمُوا۟ كَانُوا۟ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يَضْحَكُونَ. وَإِذَا مَرُّوا۟ بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ. وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓا۟ إِلَىٰٓ أَهْلِهِمُ ٱنقَلَبُوا۟ فَكِهِينَ. وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ لَضَآلُّونَ. وَمَآ أُرْسِلُوا۟ عَلَيْهِمْ حَٰفِظِينَ. فَٱلْيَوْمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنَ ٱلْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ.

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”. Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir,

KH. Bisri Musthofa dalam tafsirnya Al-Ibriiz Lima’rifatil Qur’anil Aziz berkenaan dengan QS. Al-Mutaffifin [83]: 29-34 menyebutkan bahwa sifat orang kufar Mekkah ialah bila bertemu orang mukmin yang faqir ia tertawa terbahak-bahak.

“Sifat-sifate wong-wong kang podho musyrik, yoiku kufar Mekkah, iku yen kepethuk wong-wong mukmin faqir, koyo Ammar utowo Bilal, dheweke banjur podho ngguyu-ngguyu cekakakan. Yen ono wong-wong mukmin liwat, dheweke banjur podho kedhep-kedhepan, tondho ngino lan ngerendahake. Arikolo dheweke wus podho bali menyang omahe dhewe-dhewe, ono ing umah podho cerito-cerito cekakakan, tondo puas, dene biso anggeguyu marang wong-wong mukmin.”

Tetapi seringkali, orang yang sudah mencapai ketinggian spiritual, mereka menyangka muslim mesti menjauhkan dirinya dari semua kenikmatan duniawi menjadi serius dan tidak tertawa serta menghindari humor. Maka Rasulullah menjelaskan jalan tengah dalam sabdanya: “Satu waktu dan satu waktu.” Dari sini, dapat diketahui bahwa senyum dan kesenangan adalah sesuatu hal yang mesti ada dalam diri seorang muslim. Sehingga, rasa spiritual beribadah dan rasa kesenangan harus seimbang dan ada saatnya masing-masing.

 

Wallahu a’lam bish-shawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Welcome , today is Thursday, January 27, 2022