Misteri Penciptaan Siang dan Malam

by PSQH
Categories: HOME
Tags: No Tags
Comments: No Comments
Published on: March 30, 2021

Oleh Laili Nur Hidayah

 

Asal usul penciptaan alam semesta tidak seorang manusia pun yang tahu. Bahkan Al-Quran juga tidak terlalu detail dalam menjelaskan proses penciptaan alam semesta dan seisinya. Hampir semua agama membicarakan tentang asal usul kejadian alam, para pakar agama telah mengemukakan pendapatnya dari pemahaman mereka terhadap kitab sucinya. Dari beberapa perbedaan antar tokoh atau ilmuwan dalam mengungkap misteri penciptaan Alam Semesta, penulis ingin mengungkap penciptaan siang dan malam. Serta mengapa di dalam Al-Quran penyebutan malam lebih dahulu daripada siang, apakah hal tersebut berpengaruh terhadap penciptaan keduanya?

Secara jelas Allah tidak memberitahu manakah yang lebih dahulu diciptakan ataupun apakah diciptakan bersamaan. Namun, seorang muslim yang merupakan pakar sejarah terkemuka, yakni Syaikh al-Allamah Izzu al-Din Abi al-Hasan Ali Bin Abi al-Karim Muhammad Bin Muhammad Bin Abdu al-Karim Bin Abdu al-Wahid al-Syaibani, atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnu al-Atsir ternyata sudah membahas tentang sejarah siang dan malam ini dalam kitab sejarah yang berjudul al-Kamil Fi al-Tarikh. Di bab awal dalam kitab tersebut yang semuanya berjumlah 8 jilid, Ibnu Atsir membahas secara khusus tentang masalah ini dengan memberi judul al-Qaul Fi al-Lail Wa al-Nahar Ayyuhuma Khuliqa Qabla Shahibihi (pembahasan tentang manakah yang diciptakan pertama kali, malam ataukah siang?).

Menurut beliau, ternyata pakar-pakar Islam ternyata berbeda pendapat dalam mengomentari masalah ini. Ada yang mengatakan malam lebih dulu ada baru setelah itu muncul siang. Dan ada yang berpendapat sebaliknya. Kedua pendapat ini didasarkan pada dalil dan argumen yang berbeda-beda. Ulama yang berpendapat lebih dulu tercipta siang mengatakan bahwa siang itu ada karena sinar matahari, sehingga ketika matahari terbenam maka siang pun berubah menjadi malam.

Dengan demikian, maka kita menyadari siang itu, yakni cahaya datang pada kegelapan (ruang gelap), yakni malam. Seandainya tidak ada cahaya matahari maka malam itu akan terus berlanjut. Inilah argumen dari pendapat ini yang disampaikan Ibnu Abbas. Sedangkan ulama yang berpendapat siang tercipta terlebih dahulu mengatakan bahwa Allah itu bersifat qadim sementara yang lain bersifat hadits. Sehingga ketika Allah sudah ada yang lain masih belum ada, termasuk siang dan malam. Hanya saja lalu cahaya Allah menerangi segala sesuatu sampai Allah menciptakan malam. Dengan demikian, menurut pendapat ini, siang lah yang ada terlebih dahulu karena cahaya Allah sudah ada sejak Allah ada.

Menurut Ibnu Atsir, dari dua pendapat ini, pendapat yang pertama lah yang bernar, karena argumennya lebih bisa diterima. Di samping itu, beliau mendasarkan pada sebuah ayat,

أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا (27) رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا (28) وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا (29)

“Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya (27). Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya (28). dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang (29).” (QS. Al-Nazi’at: 27-29)

Dalam ayat ini, Allah menyebutkan kata malam terlebih dahalu, baru setelah itu menyebutkan kata siang. Dan memang dalam beberapa ayat lain, yang ada penyebutan kata al-lail (malam) dan al-nahar (siang), lebih sering disebutkan siang malam terlebih dahulu daripada siang. Demikian mungkin memang pendapat inilah yang benar.

Keberadaan siang dan malam menghasilkan manfaat bagi kesehatan dan kelangsungan hidup manusia karena Allah Swt menciptakan sesuatu yang dikehendaki-Nya dengan cara sedemikian rupa. Dilansir Republika, Senin (8/6/2020), dalam penciptaan siang dan malam serta fungsinya, Allah Swt berfirman dalam Al-qur’an surat Al-Mu’min ayat 61 berbunyi:

ٱللَّهُ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيْلَ لِتَسْكُنُوا۟ فِيهِ وَٱلنَّهَارَ مُبْصِرًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلنَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

“Allah lah yang menjadikan malam untukmu agar kamu beristirahat kepadaNya. Dan (menjadikan) siang terang benderang, Allah benar-benar memiliki karunia yang dilimpahkan kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”

Dalam kitab Tafsir Ruh Al-Ma’ani karya Imam Al-Alusi diterangkan bahwa Allah memang melengkapi manusia dengan rutinitas sehari-hari secara teratur bersamaan dengan pergantian siang dan malam. Dengan menjadikan waktu siang untuk bekerja dan beraktivitas, sedangkan malam untuk beristirahat dan ketenangan. Allah Swt juga menjadikan malam berhawa dingin dan gelap hingga rasa dinginnya itu menyebabkan kekuatan yang bergerak. Sedangkan gelapnya menyebabkan ketenangan panca indera. Lebih dari itu, dalam buku Sehat dengan Ibadah karya Jamal Muhammad Az-Zaki dijelaskan, waktu-waktu jeda siang dan malam memiliki karakter tersendiri. Misalnya, anjuran untuk bersegera bangun di pagi hari atau sepertiga malam terakhir guna mendirikan salat sunah. Bangun malam yang kemudian dilanjutkan dengan salat subuh ini disusul dengan al-qailulah atau tidur beberapa menit pada waktu tengah hari. Hal itu dimaksudkan untuk istirahat ataupun tidur di pertengahan hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Welcome , today is Saturday, December 4, 2021