PUSAT STUDI TIMUR TENGAH

مركز دراسات الشرق الاوسط

CORETAN

Mengenal Ciri Khas Makanan Timur Tengah

Wilayah Timur Tengah sangatlah luas dan memiliki beberapa negara, bahasa, budaya dan kebiasaan yang berbeda. Namun dari perbedaan tersebut, terdapat beberapa persamaan yang mendasar khususnya pada Makanan mereka. Perbedaan dan persamaan pada makanan Timur Tengah terbentuk dari ketersedian bahan baku pada suatu wilayah.
Sumber karbohidrat : beras, gandum dan oat, Sumber protein dan nabati :daging kambing, domba, sapi onta, ayam dan ikan, Sumber mineral : kacang-kacangan (cheakpea, lentil, kacang polong, pistachios) tomat, bawang bombay, labu dan lain-lain. Bumbu jenis ramuan yang digunakan antara lain “abazir” merupakan campuran bumbu yang terdiri dari lada, pala, ketumbar, jintan, kayu manis, cengkeh dan kapulaga yang dihancurkan. Bumbu lain yang paling dominan digunakan hampir tiap masakannya adalah bawang bombay dan bawang putih. Sedangkan ramuan bumbu yang diambil dari dapur lebanon adalah campuran minyak wijen dan gandum. Adapun jenis campuran bumbu yang lain, seperti : garam masala, baharat, dan zattar.
Garam masala adalah bumbu campuran dari ketumbar, merica hitam, kayu manis, kapulaga bayleaves dan cengkeh. Baharat merupakan campuran dari bumbu pedas seperti merica, cabai dan paprika dicampur bumbu beraroma tajam seperti cengkeh, kayu manis dan pala. Sedangkan zattar terdiri dari campuran thyme, marjoram, kacang mete dan garam.

Banyak sekali fakta menarik mengenai Makanan Timur Tengah seperti berikut, Menurut sejarah, Roti pita dianggap sebagai salah satu roti tertua di dunia. Restoran asal Amerika seperti KFC dan McDonald’s menyajikan dan menyesuaikan menu mereka di Arab, seperti nasi Biryani hingga falafel. McDonald’s menyebutkan dengan McFalafel. Terong adalah sayuran yang paling banyak dikonsumsi di Timur Tengah. Bangsa Mesir kuno menggunakan ramuan fenugreek sebagai cairan pembalseman. Hari ini, fenugreek digunakan dalam masakan dan teh. Kacang fava/koro pernah dikutuk karena dianggap mengandung jiwa orang mati. Saffron adalah ramuan paling mahal di dunia, harganya bisa mencapai ratusan juta per kg.
Source : https://studylibid.com/doc/117554/definisi-masakan-timur-tengah

Updated: April 13, 2021 — 2:24 am

BIOGRAFI NIZAR QABBANI

Bernama lengkap Nizar Tawfiq Qabbani, pria ini terlahir di Suriah 21 Maret 1923. Keluarganya dikenal sebagai pedagang. Ayahnya Taufik Kabbani adalah pemilik pabrik cokelat. Namun bakat sastranya mungkin turun dari kakeknya yang bernama Abu Khalil yang dikenal sebagai penyair, komposer dan aktor teater.

Pendidikannya ditempuh di National Scientific College School yang dimiliki oleh Ahmad Munif al-Aidi, teman ayahnya. Ia pernah juga belajar di Universitas Damaskus dengan mengambil spesifiksasi bidang hukum.

Namun bakat sastranya mungkin turun dari kakeknya yang bernama Abu Khalil yang dikenal sebagai penyair, komposer dan aktor teater. Pendidikannya ditempuh di National Scientific College School yang dimiliki oleh Ahmad Munif al-Aidi, teman ayahnya. Ketika berumur 15 tahun kakak perempuannya yang bernama Wisal melakukan tindakan bunuh diri. Penyebabnya sang kakak menolak perjodohan yang diatur oleh orangtunya.

Ia berfikir bagaimana keluarganya yang terdidik, beradab, dan tak pernah kelaparan itu tidak bisa memberikan kebebasan dan rasa tidak adil terhadap kakak perempuannya. Latar belakang ini yang menjadikannya sering menyuarakan pendapatnya tentang hak-hak perempuan melalui karya-karyanya.Nizar meninggal Pada 30 April 1998 Karena serangan Jantung saat menjalani perawatan di rumah sakit London ia pernah berkata, «Rahim yang mengajari aku puisi, yang mengajari aku berkreasi, yang mengajari aku aksara bunga melati».

Beberapa karyanya antara lain adal Qalat Li Al-Samra’ (1944), Thufulat Nahd (1948), Samia (1949), Anti Li (1950), Qashâid (1956), Habibati (1961), Al-Rasm Bi Al-Kalimat (1966), Yaumiyat Imraah La Mubaliyah (1968), Qashaid Mutawahhisyah (1970), Kitab Al-Hubb (1970) dan masih banyak lainnya.
Source : https://profilbintangdunia.blogspot.com/2018/05/biografi-nizar-qabbani-sastrawan-arab.html?m=1

Updated: October 27, 2021 — 4:30 pm

YERUSALEM: PEREBUTAN ABADI DI ATAS TANAH SUCI

Suhu sosial-politik di tanah Palestina kembali memanas. Sumbu pemantiknya berasal dari ‘ulah’ seorang Donald John Trump, pemimpin ke-45 negara berjuluk Paman Sam. Keputusan Presiden Amerika Serikat untuk memindahkan Kedutaan Besar negara adikuasa dari Tel Aviv ke Yerusalem memicu ketegangan, yang dalam beberapa waktu sebelumnya, konflik Israel-Palestina sedikit meredam. Kehadiran Arab Spring yang menyapa beberapa negara di kawasan Timur Tengah juga mampu melupakan sejenak konflik yang belum benar-benar berakhir di bumi bernilai historis tinggi bagi pemeluk agama-agama samawi; Yahudi, Nasrani, dan Islam. Lebih dari itu, Yerusalem yang ditetapkan menjadi kawasan ber”status quo” di bawah pengawasan PBB, diakui sepihak oleh Trump menjadi ibukota Israel (6/12/2017). Tentu saja pernyataan tersebut sama dengan menabuh genderang perang dan seakan menandai konflik kawasan tersebut akan berlanjut ke babak-babak baru. Pastinya, Trump tahu resiko yang akan dihadapi dari ‘permainan’ politik luar negerinya. Ia pun seakan meneguhkan komitmen dalam merealisasikan janji-janji kampanyenya setahun yang lalu (2016). Sebuah keputusan kontroversial yang sekaligus bukti pemenuhan janjinya kepada kalangan pro-Israel (Yahudi) dan kelompok fundamentalis seperti Evangelis Kristen di Amerika yang menjadi lumbung suara bagi kemenangannya di pilpres Amerika pada tahun 2016. Simpelnya, ia seakan berucap, “Pernyataanku sesuai dengan janji kampanye, maka tidak ada yang salah dengan keputusan ini”. Well.

Yerusalem atau disebut Yerushalayim (bahasa Ibrani) dan Al-Quds (bahasa Arab) berarti “kesucian” seolah-olah hanyalah nama tak bermakna. Karena realitas di lapangan, jauh dari harapan nama indah tersebut. Tanah itu telah ternodai dengan air mata dan darah-darah manusia. Pertikaian dan perselisihan di atas “tanah yang dijanjikan oleh Tuhan” bagi kaum Yahudi itu seakan tak bertepi. Tanah itu tidak suci lagi.

Kini, Yerusalem diakui oleh Presiden Amerika Serikat sebagai ibukota Israel. Warga dan bangsa Israel pasti sangat senang menyambut kabar ini. Perjalanan panjang pembentukan masyarakat Yahudi sejak Deklarasi Balfour (1917) dan hasil perjanjian Sykes-Picot (1918) yang memutuskan migrasi besar-besaran ke tanah Palestina tinggal selangkah lagi menuju kesempurnaan. Sebaliknya, warga Palestina yang merasa sebagai penduduk asli, sudah pasti menolak bahkan akan berontak. Pemimpin negara-negara lainnya di dunia, sebagian besar juga ikut angkat suara. Banyak yang tidak sepakat dengan pernyataan orang nomer satu di Amerika tersebut. Sebagian besar dari mereka bahkan mengecam keputusan Trump.

Mereka tahu, pengakuan sepihak seperti itu dapat memicu konflik kawasan dan kemanusiaan akan terulang kembali.

Mereka tahu, bahwa tanah Yerusalem bukan milik satu agama saja. Dogma teologis merekam jejak-jejak historis tanah tiga agama monoteisme.

Mereka tahu, jika ini dibiarkan, rakyat Palestina akan berjuang mati-matian untuk meraih Yerusalem kembali. Tanah suci yang menyimpan peristiwa Isra Mi’raj bagi kaum Muslim, serta berdiri di atasnya masjid Al-Aqsha.

Mereka juga tahu, rakyat Israel tidak akan tinggal diam ketika mereka diserang oleh warga Palestina. Hasil akhirnya, tidak lain adalah peperangan di atas kota tua itu tidak bisa dielakkan.

Semua tahu konflik Israel-Palestina telah melalui berbagai perundingan yang melelahkan. Dimulai dari Resolusi DK PBB (1967), Perjanjian Camp David (1979), Perundingan Oslo (1993), ataupun pertemuan antara Yitzgak Rabin (Israel) dan Yasser Arafat (Palestina) yang menandatangani kesepakatan Interim Israel-Palestina (1995), hingga skema two states sebagai solusi terbaik bagi kedua belah pihak (Palestina-Israel) dengan tanah Yerusalem sebagai kawasan berstatus bebas di bawah pengawasan PBB.

Tapi, mereka tidak tahu kapan perebutan tanah suci ini akan berakhir. Alih-alih berakhir, justru Trump semakin meruncingkan sengketa abadi. Meskipun keputusan ini berpijak pada penerapan Undang-Undang yang telah disepakati konggres AS di tahun 1995 tentang perelokasian Kedubes AS ke Yerusalem. Trump bisa dibenarkan dalam pandangan Amerika karena melaksanakan amanat UU tersebut. Namun, ia akan sangat wajar jika dipersalahkan oleh masyarakat dunia atas keputusan sepihaknya tanpa mempertimbangkan, apakah resiko yang harus diterima lebih besar atau lebih kecil. Karena nyawa-nyawa manusia menjadi taruhannya. Layaknya Yesus dalam keyakinan kalangan Nasrani yang harus dipertaruhkan nyawanya -dengan disalib- karena arogansi sang penguasa.

Salam untuk semesta alam, dan kami bersama Palestina.

10 Desember 2017

Pak Malik Dosen2 20180202_101503

Ditulis oleh :

Muhammad Khoirul Malik

Dosen di Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah IAIN Tulungagung.
Direktur PSTT (Pusat Studi Timur Tengah) – IAIN Tulungagung

Updated: March 7, 2019 — 3:22 am
PUSAT STUDI TIMUR TENGAH © 2018 Frontier Theme