Article Review: HABIB AHMAD, “FUNGSI MANIFES DAN FUNGSI LATEN PESANTREN MAHASISWA BAITUL HIKMAH SURABAYA”

Oleh:

M. Irfan Firdaus

Artikel yang direview ini dapat pembaca temukan dalam link journal.unair.ac.id/download-fullpapers-aunc53d8a41f9full.pdf. Artikel dengan judul “Fungsi Manifes dan Fungsi Laten Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah Surabaya” merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Habib Ahmad, Jurusan Antropologi, Fakultas Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, Surabaya dan telah dipublikasikan pada jurnal AntroUnairdotNet, Vol. VI/No 1/Pebruari 2017, halaman 72-83.

Penelitian ini membahas mengenai spesialisasi perkembangan pesantren mahasiswa dilihat dari fungsi manifes dan fungsi latennya dalam rangka membentuk santri yang berketerampilan dan berdaya saing disamping harus cerdas dan berakhlakul karimah dalam mengarungi perkembangan zaman milenial ini.

“Seiring perkembangan dan perubahan zaman, pandangan pesantren pun turut mengalami perubahan dan cenderung bersikap lebih terbuka. Hal ini tercermin dari lahirnya pesantren-pesantren modern yang memiliki peraturan dan kebijakan yang lebih terbuka dengan batasan-batasan yang wajar. Keterbukaan dalam hal hubungan sosial di antara para santrinya, antara santri dengan kyai maupun santri dengan masyarakat di sekitar pesantren terlihat pada sebuah pesantren mahasiswa yang bernama Pesma Baitul Hikmah.”

“Keberadaan pesantren mahasiswa Baitul Hikmah di tengah-tengah masyarakat kampung sekitarnya menarik untuk dikaji lebih mendalam. Sebab pesantren mampu berinteraksi dan bersinergi secara kondusif dengan warga masyarakat sekitarnya bahkan sering terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial bersama mereka. Kemampuan adaptif semacam ini merupakan kunci penting agar suatu lembaga maupun organisasi sosial dapat terus bertahan dan berkembang di tengah-tengah lingkungan masyarakat.”

“Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa keberadaan pesantren mahasiswa Baitul Hikmah ini mempunyai fungsi manifes dan fungsi laten.  Fungsi manifes dalam pesantren mahasiswa dibagi ke dalam dua ragam yakni sebagai lembaga pendidikan dan dakwah seperti pada umumnya. Dan fungsi laten disini santri bisa menambah link sosial, bisa memperoleh bisyarah atau istilahnya mendapat penghasilan dari masyarakat dikarenakan peran mereka yang diwajibkan untuk membaur di masyarakat semisal diminta sebagai imam sholat, bilal dan muadzin, sehingga tidak menutup kemungkinan santri memperoleh tambahan penghasilan. Selain menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan internal bagi santri, pesantren mahasiswa ini menjadi wadah pengajaran ilmu-ilmu kegamaan bagi masyarakat sekitar dan juga sebagai lembaga dakwah serta pelayanan sosial. Dalam rangka menjalankan dakwah dan pelayanan sosial disini bisa berupa aktif dalam berbagai kegiatan yang ada di masyarakat, mengadakan pelayanan kesehatan, pelatihan-pelatihan fiqh puasa dan penyembelihan qurban dan lain sebagainya.

Sebagai fungsi laten atau tersembunyi diadakannya pesantren mahasiswa tersebut adalah bisa memperluas relasi link sosial, bisa menambah penghasilan bagi santri semisal ketika diminta menjadi bilal dan muadzin, menjadi imam sholat Shubuh kemudian diberi bisyarah (upah) oleh lembaga yang bersangkutan, kemudian juga penghargaan masyarakat pada santri yang tinggi, karena keterlibatan secara langsung santri dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial yang ada di masyarakat.

“Dalam penelitian ini dapat dipahami bahwa ada beberapa kekurangan yang dirasa perlu untuk ditambahkan dalam muatan materinya yakni gambaran secara rinci bagaimana pesantren mahasiswa Baitul Hikmah ini, apakah dilaksanakan di masjid kampus dan siapakah ustadz-ustadznya, apakah ustadznya didatangkan dari luar apa dosen lembaga kampus sendiri yang mengajar di pesantren mahasiswa ini dan lain sebagainya. Di dalam penelitian ini belum dijelaskan secara rinci seperti itu. Hanya proses kegiatan santri saja yang disorot. Namun demikian, penelitian ini menggunakan bahasa yang efektif dan tidak menggunakan pemakaian bahasa yang muluk-muluk sehingga mudah dipahami.”

“Penelitian ini penting dijadikan sebagai rujukan dilihat dari sudut pandang objek yang diteliti yakni santri pesantren mahasiswa dimana disitu terdapat inovasi dan dijadikan motivasi baru bagi pesantren mahasiswa di daerah lain dan hal ini bisa juga dijadikan rujukan bagi mahasiswa yang memang melakukan penelitian tentang  sistem pesantren yang ada di kampus. Bagi atasan/pihak kampus juga bisa dijadikan sebagai sebuah inovasi baru dalam pelaksanaan pesantren mahasiswa dan penyusunan kebijakan pesantren mahasiswa.”

Tentang Penulis:

m firdaus word-1

M Irfan Firdaus,  kelahiran Tulungagung, 17 Desember 1996. Memiliki hobi bermusik, travelling dan membaca. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan di IAIN Tulungagung. Saat ini juga sebagai Mahasiswa Magang RED-C pada bidang Pendidikan Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>