Article Review: SUBORDINASI PEREMPUAN DALAM ORGANISASI MAHASISWA IAIN TULUNGAGUNG TAHUN 2015

Oleh:

Romafi WK

 ROMAWI 1-1

Artikel yang ditulis Ni’matun Naharin dengan judul ‘Subordinasi Perempuan dalam Organisasi Mahasiswa IAIN Tulungagung Tahun 2015’ menempati halaman pada angka 175-194 dalam jurnal ‘MARTABAT: Jurnal Perempuan dan Anak’. MARTABAT adalah jurnal publikasi ilmiah yang dikelola Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Tulungagung. E-ISSN: 2581-0472, P-ISSN: 2581-2076. Volume 1, Nomor 1, Juli 2017.

Penulis memakai paham feminisme sebagai paradigma berpikir. Ni’matun Naharin adalah aktivis pejuang kesetaraan perempuan, bergabung dalam Forum Perempuan Filsafat (FPF) IAIN Tulungagung yang sama-sama bergerak dengan paradigma feminisme dan filsafat. Bersama-sama menggerakkan perempuan agar cepat keluar dari sistem patriarki yang membuat perempuan menjadi subordinat. Sekarang sebagai pimpinan umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) DIMeNSI peridode 2017/2019, sebagai seorang perempuan telah membuktikan artikelnya dalam jurnal tersebut. Melepaskan diri dari stigma yang dibebankan kepada perempuan.

Menggunakan gaya bahasa yang ringan untuk dipahami orang yang telah maupun belum bergelut dengan feminisme, penulis menyulut semangat untuk berkembang bagi perempuan. Mencoba menggoyangkan konstruk sosial yang berdiri menantang: sistem patriarki. Melalui semangat yang mulai membara itu, penulis coba bakar karang yang keras dan cadas. Menyadarkan kepada pembaca bahwa perempuan tidak melulu di bawah ketiak laki-laki. “Laki-laki digambarkan mempunyai sifat yang maskulin sementara perempuan dianggap feminin. Perempuan sekadar pelaku kerja domestik dan laki-laki publik. Dan yang paling remeh laki-laki dianggap pemberi nafkah utama sementara perempuan adalah nafkah tambahan”. (Hal. 176)

Penulis dalam pendahuluannya mengkritik beberapa konstruk tersebut. Bahwa laki-laki tidak melulu maskulin, laki-laki bisa saja feminim, juga sebaliknya terhadap perempuan. Menyoal kerja domestik dan publik, orang yang bekerja di ranah publik (luar rumah) akan mendapat lebih banyak relasi dan pengetahuan. Sedang perempuan yang bekerja di ranah domestik (dalam rumah) tidak mendapatkannya, hal ini menjadi makin rancu jika terus dilanggengkan. Perempuan akan tetap berada di bawah ketiak laki-laki. Selanjutnya tentang pemberi nafkah, perspektif bahwa laki-laki adalah pemberi nafkah utama benar-benar menjatuhkan posisi perempuan secara terang-terangan.

Kalimat selanjutnya penulis menjelaskan konsep emansipasi yakni revolusi 861 untuk gerakan global kaum perempuan oleh Economic and Social Council PBB. Selain itu juga beberapa gerakan dan organisasi, Conference International Year of Woman di Meksiko, Konferensi dunia di Kopenhagen yang menghasilkan Commite on the Elimination of Discrimination Against Woman (CEDAW). Sebagai pengobar semangat dalam tulisannya diambil pula sejarah sebelum Indonesia merdeka, dituliskan beberapa nama perempuan yang ikut turun ke medan perang diantaranya: Christina Marta Tiahau, Cut Nyak Dien, dan Cut Meutia.

Pendahuluan menjabarkan alur bagaimana pada ranah pendidikan, perempuan boleh memasuki ruang organisasi dan menempati stutural vital di dalamnya. Yakni ketika diangkatnya Maria Ulfah Santoso sebagai Menteri Sosial pada kabinet Syahrir II. Secara garis besar, dalam bab pembahasan, penulis ingin menjabarkan dengan gamblang subordinasi perempuan dalam organisasi mahasiswa melalui subbab Memaknai Gender, Makna Peran dan Peran Ganda Perempuan, Kiprah Perempuan dalam Organisasi, serta Subordinasi Perempuan dalam Organisasi.

Penulis menggunakan riset bahwa di waktu tersebut lebih banyak laki-laki yang memegang peran dalam struktral organisasi, sedang perempuan kebanyakan hanya sebagai sekretaris. Hal ini dikuatkan dengan pemaparan data sebagai ketua pelaksana kegiatan 75,2% dimiliki laki-laki dan perempuan hanya sekitar 24,7%. Sedang sekretaris 77,7% adalah perempuan dan laki-laki 22,3%.

Dari tiap subbab dikandung sebuah pemahaman yang digunakan untuk menjelaskan subbab selanjutnya. Alur yang mudah diikuti membuat tulisan ini mudah dipahami. Penulis berhasil menyampaikan maksud tulisannya, artinya menumbuhkan kesadaran dan menumbuhkan semangat emansipasi.

Perlu diketahui bahwa gender dan seks adalah berbeda. Hal ini yang tidak disadari banyak orang baik laki-laki maupun perempuan. Penulis jabarkan sedari awal agar tidak mengarah pada bias yang dihindari, memudahkan memahami, serta menumbuhkan kesadaran. Pada bagian terakhir didapati kesimpulan masih ada kesenjangan yang tidak disadari komunal bahwa peran laki-laki dan perempuan adalah sama.

Artikel ini unggul dalam penggunaan bahasa yang mudah dipahami, enteng dan tidak berbelit, serta alur yang sesuai dalam memudahkan menjabarkan tujuan pokok tentang subordinasi perempuan dalam organisasi kampus. Tapi sayang, hasil riset yang dilakukan menunjukkan kesimpulan tidak menyenangkan, yakni pendidikan dan pengetahuan tentang kesetaraan gender hanya sebagai pengetahuan sedangkan dalam penerapannya hanya sebagian kecil yang melakukan.

Seharusnya tulisan semacam ini lebih banyak diproduksi baik oleh laki-laki atau perempuan. Menyuarakan semangat emansipasi dan penumbuhan masing-masing kesadaran tentang posisi. Menggulingkan stigma terhadap perempuan dan konstruk sosial yang membuat laki-laki sebagai pusat pembuat peraturan. Perempuan menjadi tidak punya pilihan, terpaksa disudutkan dengan peraturan dari konstruk sosial tersebut. []

 

Tentang Penulis:

romafi-1

Penulis bernama Romafi, WK. Jurusan Tadris Matematika. Mahasiswa magang RED-C.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>