Article Review: YUSUF MOHAMAD YASIN, PENDIDIKAN ISLAM INKLUSIF-MULTIKULTURAL DALAM PERSPEKTIF TEORI GESTALT

Oleh:

Muhamad Choirul Ichsan

 

Artikel yang direview ini terdapat dalam jurnal Ta’allum, Vol. 2, No. 2, Hal. 195-214 (2014) yang berjudul Pendidikan Islam Inklusif-Multikultural dalam Perspektif Teori Gestalt, ditulis oleh Mohamad Yasin Yusuf.

Artikel ini dibuat atas jawaban dari banyaknya fenomena kelompok agama yang memiliki ideologi yang mengarah pada kebenaran yang berlebihan, sepihak, dan eksklusif. Oleh sebab itu penulis mengajak untuk mengembangkan paradigma pendidikan Insklusif-Multikultural yang menghargai pluralitas dan heterogenitas sebagai konsekuensi dari keragaman budaya, etnis, dan agama.

Praktek kekerasan yang mengatasnamakan agama, dari fundamentalisme, radikalisme, hingga terorisme, akhir-akhir ini semakin marak di tanah air. Kekacauan yang terjadi dalam tubuh agama tersebut sebenarnya terjadi karena tidak adanya kesadaran akan eksistensi pihak lain, mereka selalu menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar. Klaim-klaim sepihak seringkali muncul berkaitan dengan kebenaran suatu paham atau agama yang dipeluk oleh seseorang atau masyarakat. Pemahaman yang bersifat parsial tersebut akan memunculkan klaim-klaim sepihak dari mereka yang menyatakan diri mukmin dan muslim yang sejati, dan hal tersebut akan menempatkan segala pihak diluar mereka sebagai ancaman terhadap keberimanan dan keislaman tersebut. Dunia sosial kemudian mereka bagi hanya menjadi dua wilayah: antara mereka yang kafir dan mereka yang muslim.

Penulis memberitahu bahwa salah satu upaya menumbuhkan kesadaran untuk memiliki sikap pluralis adalah memalui pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu media yang paling efektif untuk melahirkan generasi yang memiliki pandangan yang mampu menjadikan keragaman sebagai bagian yang harus diapresiasi secara konstruktif. Upaya untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara penganut beragama, adalah melalui pendidikan yang inklusif-multikultural, yakni kegiatan edukasi dalam rangka menumbuh kembangkan kearifan pemahaman, kesadaran sikap dan perilaku (mode of action) peserta didik terhadap keragaman agama, budaya, dan masyarakat. Pendekatan dalam pendidikan yang seperti itulah yang juga dapat dijelaskan melalui teori “gestalt”.

Karya ini menjelaskan bahwa pemahaman seseorang dalam melihat sesuatu itu sesuai dengan teori gestalt, misalnya ketika seseorang melihat sebuah objek gambar, maka sesungguhnya orang  tersebut tidak pernah “melihat”, melainkan selalu dalam keadaan “melihat sebagai”. Dalam artian senantiasa menafsirkan dan menginterpretasikan apa yang dilihat agar mampu melihatnya, kemudian menceritakan kembali apa yang pernah dan sedang dilihat, menurut perspektif mereka sendiri sesuai dengan pengalaman, karakter, gaya hidup dan sudut pandang masing-masing, dan inilah yang selalu menyebabkan selalu adanya perbedaan penafsiran dan perspektif dalam melihat sesuatu pada setiap orang. Orang melihat apa yang bisa ia lihat, bahkan sebenarnya orang hanya melihat apa yang ingin ia lihat. Pilihan kata “bisa” dan “ingin” menunjukkan bahwa cara pandang setiap orang ataupun setiap peneliti terhadap sebuah kajian sebenarnya mengidap subjektivitas dari para pelakunya masing-masing.

Dalam menerapkan paradigma keagamaan yang inklusif-multikultural, setiap golongan perlu memahami dan menyadari, bahwa diluar golongan mereka terdapat berbagai macam entitas yang berbeda-beda,serta memiliki pandangan dan penafsiran yang berbada-beda, dan perbedaan tersebut haruslah dihargai dan dihormati keberadaannya. Kesadaran yang seperti inilah yang akan membimbing setiap golongan untuk tidak merasa benar sendiri, menyalahkan pandangan lain yang berbeda dengan dirinya serta meniadakan eksistensi golongan lain.

Jika umat islam dan khususnya para pengkaji islam mampu memiliki sikap yang intersubjektif, dan mampu memahami teori gestalt sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, maka pandangan mereka akan semakin luas dalam melihat realitas dunia yang serba plural penuh dengan keberagaman identitas, multietnis, multibahasa, multireligi, multiras dan multikultural, yang memiliki corak yang berbeda-beda dan tidak akan dapat dipersamakan tersebut. Mereka tidak lagi bersikap sempit dan selalu menyalahkan pihak lain, dan hanya menganggap perspektif dirinyalah yang paling benar. Konsep Islam sebagai agama yang “rahmatan lil alamin” hanya mampu diaplikasikan apabila Islam ini menjadi agama yang menjunjung tinggi kedamaian, memahami pluralitas, dan tidak terjebak dalam subjektifitas yang akut, sehingga selalu menganggap salah pihak lain. Dari sinilah maka paradigma inklusif-multikultural akan mampu terwujud, dan akhirnya agama akan benar-benar berfungsi sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia.

Kelebihan dari karya ini adalah mampu menjelaskan konsep pendidikan inklusif multikultural dari cara pandang teori gestalt dengan referensi yang relevan. Selain itu penjelasan dari karya ini cukup lengkap mulai dari penjelasan paradigma inklusif multikultural sampai dengan penerapannya dalam pendidikan islam.

Kekurangan dari karya ini adalah bahasa dan pembahasannya terlalu bertele-tele dan kurang to the point. Selain itu konsep yang ditawarkan masih sebatas paradigma semata dan belum menyasar bentuk praktis. Karya ini penting untuk dibaca utamanya yang bergelut dalam pendidikan Islam karena karya ini  menawarkan paradigma pendidikan inklusif-multikultural yang menghargai heterogenitas yang pada akhirnya bisa menghambat pandangan radikalisme yang berkembang di masyarakat dan mewujudkan Islam yang rahmatan li al-‘alamin.

Tentang penulis:

 m choirul ichsan

Muhamad Choirul Ichsan, lahir di Tulungagung, 10 Juli 1997. Memiliki Hobi membaca, mendengarkan musik, dan traveling. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Institut Agama Islam Negeri Tulungagung. Saat ini juga sebagai Mahasiswa Magang RED-C pada bidang Pendidikan Islam. (Tim RED-C)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>